RADIKALISME SEKTE WAHABI
Download E-Book: RADIKALISME SEKTE WAHABI. Mengurai Sejarah & Pemikiran Wahabiyah Oleh: Syaikh Fathi Al-Mishri Al-Azhari.

Download E-Book: RADIKALISME SEKTE WAHABI

Download E-Book: RADIKALISME SEKTE WAHABI. Mengurai Sejarah & Pemikiran Wahabiyah Oleh: Syaikh Fathi Al-Mishri Al-Azhari. Penerbit: Pustaka Asy’ari

Akar Terorisme dalam Perbincangan Telah banyak ruang diskusi dan karya ilmiah yang berusaha mencari sebab-sebab munculnya terorisme. Sebagian menemukan benang merah terorisme ada pada kemiskinan dan kebobrokan moral. Pertanyaannya sampai seberapa jauh pengaruh kemiskinan dan krisis moral dalam menyebabkan munculnya terorisme? Krisis moral dan kemiskinan terkadang menjadikan orang berbuat kriminal tetapi pada batasan tertentu, tidak menjadikan tindakannya sebagai ideologi yang mengharuskan dia terus melakukan teror karena ada semangat balasan kebaikan (pahala) atas perbuatannya.

Sesungguhnya yang lebih membahayakan dari terorisme yang terbatas (baca; kriminalitas) adalah gerakan teror yang muncul dari individu dan kelompok yang mereka sendiri bukanlah orang yang setiap harinya melakukan kriminal atau pembunuhan, akan tetapi mereka berpengang teguh pada sebuah ideologi. Mereka menjadikan ideologi tersebut sebagai dasar dalam melakukan gerakan teror dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang terdapat pada ideologi tersebut. Terorisme semacam ini akan muncul kapan saja tidak hanya disebabkan karena balas dendam atau counter attack atas perbuatan individu atau kelompok lain. (Lihat Ahmad Tamim, Bara‟ah al-Habib min Ahli al-Irhab wa at-Takhrib halaman 6).

Sebagian berusaha mencari akar terorisme pada kondisi ekonomi pada negara-negara tingkat tiga yang menurut mereka belum tersentuh oleh peradaban Barat yang menjunjung tinggi HAM. Tesis ini mengatakan bahwa diantara mereka yang tersangkut masalah-masalah terorisme bukanlah dari kalangan orang kaya atau orang terpelajar yang pernah mengenyam pendidikan Barat. Karena menurut mereka orang kaya dan terpelajar tidak akan melakukan tindakan picik (teror), apalagi mereka mendapatkan pendidikan HAM di Barat. Inilah yang saya maksudkan dengan ideologi “terorisme” yang diusung oleh individu atau kelompok dengan berkedok agama.

Padahal agama Islam mengajarkan kebaikan dan keadilan, dan melarang dari perbuatan munkar dan kejahatan. Karenanya, ketika kita mendengar adanya peristiwa terorisme di beberapa tempat selalu dikaitkan dengan agama Islam. Tuduhan ini pasti ditolak mentah-mentah oleh umat Islam dengan mengatakan
bahwa Islam memerangi terorisme.

Terkadang tuduhan itu ditujukan kepada sebagian generasi muda Islam yang mempunyai ghirah Islamiyah yang tinggi tanpa didasari nilai-nilai ajaran Islam yang benar. Benar, sedikit tulisan yang mengupas tentang ideologi perusak penyebab perpecahan di antara umat. Ideologi yang berkedok jihad untuk melegitimasi bombing, hijacking dan aksi teror lainnya. Sedikit tulisan yang mengupas masalah ini berdasarkan pendapat para ulama yang mu’tabar untuk memadamkan fitnah mereka.

Tuduhan dan serangan terhadap Islam dari musuh-musuh Islam semakin mengkristal dan bias kepentingan menganggap Islam adalah agama terorisme. Di pihak lain ketika ada usaha untuk mencari akar terorisme dari doktrin-doktrin radikal yang ditanamkan kepada generasi muda, muncul reaksi keras dari sebagian umat Islam sendiri dengan berdalih “hilangkan perbedaan ideologi” dan perkokoh “wahdat al-ummah” dalam menghadapi serangan musuh-musuh Islam”.

Jujur, kita memang menginginkan wahdat al-ummah (persatuan umat) dan segala cara yang dapat merealisasikannya. Akan tetapi jangan sampai hal ini dijadikan oleh sebagian oknum untuk melindungi terorisme. Sebagian berpendapat bahwa membuka tabir masalah ini akan mengancam kesatuan umat dan masuk dalam kategori ghibah muharramah serta melemahkan umat Islam itu sendiri. Saya berpendapat sebaliknya, bahwa
ketika kita diam tidak melakukan tahdzir (menyebutkan kesalahan) terhadap gerakan separatisme mulai dari kepala sampai ekornya, itulah yang akan mengancam tatanan al-wahdat al-islamiyah. “Berbeda dalam kebenaran lebih baik daripada bersatu dalam kebathilan”.

Buku yang ada di tangan pembaca tidak membahas tentang terorisme, akan tetapi buku ini mengupas tentang sebuah ideologi yang memuat doktrin merasa paling benar sendiri. Siapapun orangnya dan apapun alirannya kalau tidak sepaham dengan mereka maka tergolong kafir, musyrik, sesat, ahli bid‟ah, halal darahnya, wajib diperangi dan lain sebagainya. Pasti pembaca dapat menangkap sebuah benang merah kaitan terorisme dengan sebuah ideologi.

Bagian kedua dari buku ini mengupas tuntas tentang kemiripan –kalau tidak mau dikatakan kesamaan- aqidah antara mereka yang mengklaim “Ahlussunnah” atau menamakan dirinya “salafi” dengan berdalih al-Quran dan hadits serta perkataan “ulama mereka” dengan aqidah Yahudi yang semua tahu kalau mereka di luar Islam. Bahaya laten pasti lebih berbahaya dari yang terang-terangan melawan kita. Musuh dalam selimut jelas lebih susah untuk diketahui daripada yang mengadakan perlawanan secara frontal. Berarti, kalau ada dua kelompok yang sama aqidahnya, satu terang-terangan melawan Islam sementara yang lain mengatasnamakan Islam, siapakah yang lebih berbahaya?

Untuk membaca lebih lanjut, silahkan Download di: http://adf.ly/1mIBeQ

Cara Download: 

Bagi yang masih bingung download Link yang diberikan, setelah Link di klik, akan tampil adf ly marketing di pojok sebelah kanan atas ada hitung mundur 5 sd 0 lalu tampil “Skip Add“. Klik Skip Add tersebut

 

 

About Abu Fatma

Check Also

Kesesatan Nashiruddin Al Bani

Download E-Book: Kesesatan Nashiruddin Al Bani

Download E-Book: Kesesatan Nashiruddin Al Bani. Judul asli : Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqoía fi Baca Lanjut

Leave a Reply

%d bloggers like this: