Kebalikan dari ajaran agama samawi, ajaran wahabi membolehkan membuat fitnah dan menyebarkannya demi kepentingan golongannya.

Belajar Jujur dengan Menyebar Kebohongan

Kebalikan dari ajaran agama samawi, ajaran wahabi membolehkan membuat fitnah dan menyebarkannya demi kepentingan golongannya. Dalam hal ini mereka menyebutnya sebagai siyasah. Dalam siyasah, apapun boleh dilakukan demi menjatuhkan pihak lawan. Maraknya berita hoax yang beredar saat ini yang disebarkan secara viral oleh mereka dianggap sebagai bagian dari siyasah.

Fitnah yang mereka sebarkan menurut mereka adalah bagian dari strategi memenangkan peperangan di dunia maya dan di dunia nyata. Ketika ditanyakan kepada mereka kenapa mereka berani membuat fitnah atau menyebarkan fitnah terutama fitnah mereka terhadap aliran Syi’ah, mereka menjawab, “Lebih parah fitnah syi’ah terhadap islam terutama fitnahnya terhadap sahabat dan Ummahatul Mu’minin. Syi’ah adalah agama dusta yang didirikan oleh Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ yang membolehkan taqiyah (dusta) dalam agamanya. Balasan kami dalam memfitnah mereka masih setimpal atau masih belum seberapa”.

Berangkat dari asumsi mereka sendiri bahwa syi’ah adalah agama dusta, mereka menghalalkan fitnah yang mereka sadari itu adalah fitnah. Mereka bersandar kepada ayat yang mereka artikan sedemikian dangkal demi menyebarkan keyakinan mereka sebagai pembela sunnah. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 194 :

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ

Artinya:

“Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu”

Untuk mendukung fitnah mereka tersebut, mereka bersandar pada Tafsir Al-Qurthubi dibawah ini:

فمن ظلمك فخذ حقك منه بقدر مظلمتك ومن شتمك فرد عليه مثل قوله ومن اخذ عرضك فخذ عرضه ولا تتعدى إلى أبويه ولا إلى ابنه أو قريبه

Artinya :

Barang siapa yang menzalimimu maka ambillah hakmu yang dizalimi tersebut, barang siapa yang mencacimu, maka cacilah ia sesuai dengan cacian yang setimpal, barang siapa yang mempermalukanmu maka permalukan dia, dan janganlah kamu melebihi itu seperti mempermalukan kedua orang tuanya, anaknya atau kerabatnya yang lain. (Tafsir Qurthibi Jld. 2 hal 360 terbitan Daar Al-Shaab Kairo th. 1372 H).

Jika kita perhatikan secara, seksama baik ayat ataupun penafsiran Al-AQurthubi diatas, tidak ada indikasi sedikitpun berkaitan dengan bolehnya memfitnah, namun mereka tetap menyelewengkan makna ayat demi kepentingan eksistensi golongan mereka sendiri. Ayat diatas berkenaan dengan perbuatan zhalim yang dilakukan dari pribadi ke pribadi yang lain secara faktual kekinian, bukan dari golongan ke golongan yang lain, apalagi kezhaliman yang dimaksud hanya sebatas asumsi belaka berdasarkan pemahaman terhadap sejarah yang terjadi dimasa lampau.

About Abu Fatma

Check Also

Oleh-oleh Jihad Nikah

Oleh-oleh Jihad Nikah dari Suriah: Perkawinan Wahabi ISIS Bagai Binatang [Video]

Oleh-oleh Jihad Nikah dari Suriah: Perkawinan Anggota Wahabi ISIS Bagai Binatang. Ada delapan orang, salah Baca Lanjut

%d bloggers like this: