Hizbullah
Saudi lancarkan perang politik thdp Hizbullah pasca pengunduran diri Hariri. Hariri menyebut Iran dan Hizbullah sbg alasan letakkan jabatan

Arab Saudi Mau Serang Hizbullah? Ini Kata Pakar Perang

Arab Saudi sudah beberapa kali mengancam akan melancarkan tekanan militer terhadap Hizbullah Lebanon. Sejauh ini, Saudi melancarkan perang politik terhadap Hizbullah pasca pengunduran diri Saad Hariri dari jabatan perdana menteri Lebanon. Hariri sendiri menyebut Iran dan Hizbullah sebagai alasan mengapa dia meletakkan jabatan. Lantas bagaimana pendapat para pakar mengenai ancaman tersebut?

Media online Ray Al-Youm, Kamis (9/11/2017), memuat komentar para pakar dan pengamat persenjataan negara-negara Timteng.

 

Mereka menyatakan bahwa Saudi memang istimewa dalam sejarah militeran sejak tahun 1970-an sampai sekarang. Saudi masuk dalam 10 besar negara besar pemborong peralatan tempur, namun bergantung pada kesepakatan-kesepakatan kolektif dan bilateral, terutama dengan Amerika Serikat (AS) untuk mendapat perlindungan karena Saudi memang tak berkompeten melindungi dirinya dalam perang.

Menurut mereka, Saudi juga tidak memiliki rekam jejak perang dalam beberapa dekade terakhir. Satu-satunya pengalaman yang dimilikinya ialah operasi militer bersandi “Badai Mematikan” yang dilancarkan koalisi pimpinan Saudi terhadap sebuah negara miskin, lesu, dan terbelah secara sosial dan keamanan. Dan meskipun operasi militer disertai aksi blokade ini sudah berjalan sekira tiga tahun, tapi Riyadh malah terjangkau rudal Ansarullah Yaman yang juga berkeliaran di kawasan perbatasan kedua negara.

Para pakar itu menjelaskan bahwa Saudi memang memiliki fasilitas serangan udara yang tangguh, tapi sayang karena minus pengalaman membidik sasaran. Di Yaman sebagian korbannya malah warga sipil, termasuk perempuan dan anak kecil, sehingga PBB bahkan angkat bicara mengenai kejahatan perang Saudi dan sekutunya.

Jet tempur F-15 dan Tornado bisa mencapai wilayah Lebanon untuk membidik sasaran dan diisi bahan bakar di udara, tapi akan menghadapi banyak kendala atau bahkan mustahil. Dan di Lebanon juga tidak ada sasaran-sasaran militer terbuka semisal pangkalan militer milik Hizbullah, sehingga skenario perang Yaman akan terulang lagi, yaitu serangan terhadap sasaran sipil. AS dan Israel sejak awal sudah menyerang Lebanon seandainya ada sasaran militer kasat mata milik Hizbullah. Hizbullah unik karena tersembunyi dan tidak tersentral sehingga tak mungkin bisa dibasmi kecuali dengan memorak porandakan Lebanon secara total.

Para pakar itu melanjutkan bahwa untuk dapat menggempur kantung-kantung Hizbullah, jet tempur Saudi harus menerobos zona udara Suriah atau Israel. Israel tidak akan mengizinkannya karena tak ubahnya dengan pernyataan perang Israel terhadap Hizbullah, sementara melintasi zona udara Suriah juga tidak mungkin karena akan berhadapan dengan sistem pertahanan udara Rusia.

Melalui laut juga tidak mungkin karena Saudi tidak memiliki armada yang bergerak di perairan Lebanon. Jangankan Saudi, Israel saja menjauh dari perairan Lebanon pasca perang dengan Hizbullah pada tahun 2006 setelah kapal perang Sa’ar 5 miliknya diterjang rudal Hizbullah dari daratan Lebanon.

 

Para pakar itu juga menyebutkan bahwa Saudi juga tidak memiliki pasukan khusus semisal Navy Seals dan Delta milik AS, atau Special Boat Service milik Inggris, atau Spetnaz milik Rusia untuk penyerbuan dan penghancuran sasaran-sasaran militer Hizbullah di Lebanon.

Bahkan, Israel yang memiliki pasukan khususpun ternyata jera masuk ke wilayah Lebanon meskipun berbatasan langsung dengan Lebanon dan memiliki agen rahasia yang bekerja keras.

Seandainya Saudi memiliki pasukan khusus dan terlatih untuk penyerbuan maka penyerbuan tentu sudah ia dilakukan dalam perang Yaman. Nyatanya, Saudi tidak melakukannya.

About Abu Fatma

Check Also

Ustadz Idol

Ustadz Idol, Produk industri media yang berorientasi pasar dan modal

Berdakwah adalah sebuah aktivitas mulia yang merupakan salah satu bagian dari prinsip amar makruf dan Baca Lanjut

%d bloggers like this: